Minggu, 16 November 2025

RENJANA: Jeda yang Tidak Pernah Selesai

Aku tiba lebih awal di kafe itu. Ruangannya sempit, lampu kuning redup, dan hujan mengetuk kaca seperti seseorang yang ingin masuk tapi tak punya alasan kuat. Sudah bertahun-tahun aku tidak melihatnya, tapi ketika ia muncul di ambang pintu, tubuhku menegang. Wajahnya bukan tua, bukan letih—lebih seperti seseorang yang sudah terlalu lama kehilangan arah hingga tak peduli lagi bentuk tujuannya.

Ia duduk tanpa senyum. Hanya sebuah anggukan kecil, seolah pertemuan ini bukan reuni, melainkan pemeriksaan rutin terhadap luka lama.

“Aku dengar hidupmu berubah,” katanya ketika pelayan pergi.

Aku menatap asap kopi yang naik seperti ruh yang ragu-ragu. “Bukan berubah. Lebih ke … berhenti memaksa.”

Ia tertawa pendek, tapi suaranya hambar. “Sama. Dulu aku pikir hidup itu tinggal menambah pencapaian. Sekarang rasanya semakin aku mengejar, semakin jauh semuanya pergi.”

Keheningan merapat di antara kami. Hening yang tidak canggung—lebih seperti dua reruntuhan yang akhirnya mengakui bentuk keretakan masing-masing.

“Aku sudah tidak punya rencana besar,” kataku. “Bahkan untuk hal-hal yang dulu kuanggap sakral. Rumah, keluarga, masa depan yang rapi. Semua itu terasa seperti brosur hidup yang didorong ke tangan kita tanpa pernah kita minta.”

Ia menatap permukaan sendok, melihat pantulan wajahnya sendiri yang terdistorsi. “Aku berhenti percaya pada konsep ‘nanti’. Terlalu sering jatuh di titik yang sama. Terlalu banyak janji yang kubuat pada diri sendiri, terlalu sedikit yang bisa kutepati. Pada akhirnya, aku lelah menagih takdir.”

“Jadi sekarang hanya mengikuti arus?”

“Bukan hanya,” katanya pelan. “Mengalir adalah bentuk bertahan. Dan bertahan … kadang itu yang paling masuk akal.”

Aku mengangguk. “Dulu aku pikir aku ditakdirkan untuk jadi hebat. Sekarang aku lebih percaya bahwa ambisi bisa jadi racun kalau dicampur harapan yang terlalu manis.”

Kali ini ia tersenyum tipis. Ada retakan di senyum itu, tapi justru di situlah kejujurannya. “Kau terdengar lebih gelap.”

“Gelap itu jujur,” jawabku. “Terang sering dipakai orang untuk memoles bangkai.”

Ia meletakkan sendok, napasnya berat namun stabil. “Jadi kita hidup begini saja? Tanpa kilau, tanpa rencana, hanya berusaha tidak tumbang?”

“Tidak tumbang itu pencapaian,” kataku. “Bukan piala, tapi cukup.”

Hujan di luar semakin riuh. Kafe makin kosong. Kami masih berbicara sedikit, tapi tidak ada lagi pretensi, tidak ada usaha mengesankan satu sama lain. Hanya dua orang yang pernah berlari terlalu keras, kini duduk menilai reruntuhan dengan tenang.

Ketika kami berpisah, tak ada pelukan atau janji temu. Hanya dua langkah mundur, dua anggukan, seperti dua bayangan yang saling mengakui tanpa menuntut apa pun.

Dalam perjalanan pulang, aku merasakan sesuatu yang aneh: semacam kelegaan yang tidak manis, tapi jujur. Mungkin hidup memang tidak pernah berniat membuat kami besar. Mungkin yang ia minta hanya satu hal: tetap ada … meski dengan kecewa yang belum selesai, meski dengan langkah yang semakin pelan.

Dan di kesunyian itu, untuk pertama kalinya, aku merasa tidak perlu lagi pura-pura.

 

Share:

0 comments:

Posting Komentar