Game soulslike itu bukan cuma genre; itu semacam audit batin—versi digital dari krisis seperempat umur tahap lanjut—terutama kalau lo udah masuk usia pertengahan 30, di mana otak lo penuh serpihan kenangan yang nggak selesai, ambisi yang mulai direvisi, dan rasa capek yang bentuknya lebih eksistensial ketimbang fisik. Main Dark Souls, Elden Ring, Lies of P, atau apa pun yang mirip, rasanya kayak lagi ngorek ruang bawah tanah di kepala sendiri dan nemu folder-folder lama: ketakutan gagal, dorongan kompulsif untuk bertahan, dan ilusi kontrol yang makin tipis kayak rambut alis setelah lembur panjang.
MONOLOG: Bonfire di Usia 30-An
Game soulslike itu bukan cuma genre; itu semacam audit batin—versi digital dari krisis seperempat umur tahap lanjut—terutama kalau lo udah masuk usia pertengahan 30, di mana otak lo penuh serpihan kenangan yang nggak selesai, ambisi yang mulai direvisi, dan rasa capek yang bentuknya lebih eksistensial ketimbang fisik. Main Dark Souls, Elden Ring, Lies of P, atau apa pun yang mirip, rasanya kayak lagi ngorek ruang bawah tanah di kepala sendiri dan nemu folder-folder lama: ketakutan gagal, dorongan kompulsif untuk bertahan, dan ilusi kontrol yang makin tipis kayak rambut alis setelah lembur panjang.
