DI TEPI PESAN YANG TAK TERKIRIM
Ia berdiri di bawah lampu koridor apartemen yang redup, menatap layar ponselnya seolah benda itu menyimpan petunjuk yang ia lewatkan. Hanya ada satu kotak percakapan yang terus ia buka—ruang kosong yang dulu pernah hidup oleh percakapan singkat, emoji seadanya, dan jeda-jeda yang sama canggung dengan dirinya.
Sudah lama mereka tidak berbicara. Tidak ada pertengkaran, tidak ada perpisahan, tidak ada sesuatu yang bisa diberi label. Waktu hanya berjalan dan menjauhkan, seperti dua kereta yang sama-sama bergerak pelan tapi menuju arah yang berbeda.
Di tangannya, pesan itu berulang kali ditulis lalu dihapus. “Hei,” tulisnya. Hapus. “Apa kabar?” Hapus. Layar kembali bersih, seperti tidak ada satu pun ketakutan yang pernah dirangkai di sana.
Di dalam kepala, ia membayangkan suara dering singkat di ponsel orang itu. Membayangkan kepala yang terangkat, alis sedikit mengernyit. Lalu muncul kemungkinan-kemungkinan yang tak mau berhenti berdesakan. Mungkin ia akan dianggap mengganggu. Mungkin ia akan dibalas dengan sopan tapi dingin. Mungkin ia tidak akan dibalas sama sekali, dan diam seperti itu lebih menyakitkan daripada kata-kata paling buruk.
Ia menyandarkan tubuh ke dinding koridor, merasakan dingin merembes lewat jaket tipisnya. Suara AC gedung berbunyi lirih, seperti napas panjang bangunan tua yang terlalu sering dipaksa bekerja. Sementara ia sendiri merasa seperti seseorang yang terperangkap dalam jeda, di antara tombol “kirim” dan ketakutan yang menahan.
Dalam ruang pikirannya, wajah orang itu muncul samar. Bukan potret yang jelas—lebih seperti sketsa yang tersusun dari fragmen: cara tersenyum setengah hati, kebiasaan meletakkan rambut di balik telinga, tawa kecil yang muncul tiba-tiba. Detail-detail yang tak lagi ia temui di dunia nyata, tetapi masih menyelinap tanpa izin.
Ia kembali menatap layar. Jempolnya bergerak pelan, mengetik satu kalimat: Aku ingin menyapamu, tapi aku takut mengganggumu.
Kalimat itu berdiri di sana, tipis dan ringkih. Tidak puitis, tidak dramatis, hanya sesuatu yang ingin keluar. Ia menatapnya lama, seperti seseorang yang menimbang apakah harus melompati celah kecil yang sebenarnya bisa dilewati dengan mudah, namun terasa seperti jurang.
Kemudian ia menutup kembali ponsel itu tanpa mengirim apa-apa. Bukan karena ia sudah yakin, melainkan karena keraguannya menang sekali lagi. Keraguan yang tumbuh dari bayangan-bayangan yang ia ciptakan sendiri—bukan dari kenyataan.
Ia berjalan menuju lift, langkahnya pelan, bergema di sepanjang koridor. Di lantai bawah, suara kota menyambutnya: kendaraan lewat, lampu toko yang hampir padam, dan angin tipis malam. Semua itu terasa biasa saja, tapi justru keberbiasaannya membuat ia merasa lebih kecil.
Di halte terdekat, ia duduk menunggu bus yang nyaris kosong. Ia membuka ponsel lagi, menatap percakapan itu untuk kesekian kalinya. Tidak ada pesan baru. Ruang itu tetap hening, tidak menuntut apa pun darinya.
Sebelum bus datang, ia mengetik sesuatu sekali lagi. Tidak rumit. Tidak panjang. Sebuah salam sederhana, tanpa beban apa pun. Lalu ia diam. Pesan itu tidak terkirim. Ia hanya membiarkan kalimat itu berada di sana—sekadar bukti bahwa perasaannya tidak padam.
Ketika bus akhirnya berhenti di depannya, ia memasukkan ponsel ke saku. Malam terasa lebih ringan. Mungkin besok ia akan berani. Mungkin tidak. Tapi ia memilih naik bus itu dan duduk di kursi belakang, menatap jendela yang bergetar pelan.
Kota lewat dalam pantulan. Dan di balik kaca, ia melihat sosoknya sendiri: seseorang yang masih berada di tepi suatu kalimat yang belum berani melompat.
Cerita itu belum selesai, pikirnya. Hanya berhenti sementara, persis seperti pesan yang belum ia kirimkan.
0 comments:
Posting Komentar