Rabu, 05 November 2025

MONOLOG: LELAKI YANG TAK JADI APA-APA


 Jam tiga pagi.

Gue masih duduk di depan laptop yang layarnya kosong. Nggak ada satu kata pun keluar. Cursor-nya cuma nyala-mati-nyala-mati, kayak jantung yang nggak yakin mau terus berdetak atau berhenti aja.

Di asbak, rokok terakhir udah mati separuh. Abunya nempel di ujung filter, bentuknya kayak niat yang gagal gue selesaikan.

Kota di luar sunyi, tapi kepala gue ribut.
Detik jam di dinding terdengar jelas—teratur, kejam, dan jujur: terlambat, terlambat, terlambat.

Umur gue tiga puluh lima.
Dan kalau hari ini gue harus jujur, gue nggak tahu apa yang bisa gue banggakan dari semua tahun yang lewat.
Gue nggak miskin, tapi juga nggak sukses.
Nggak gagal total, tapi nggak berarti juga.
Hidup gue kayak versi beta dari sesuatu yang nggak pernah sempat disempurnakan.

Dulu gue percaya waktu akan ngasih gue kesempatan. Gue cuma perlu sabar, katanya. Tapi ternyata sabar juga bisa jadi bentuk lain dari takut. Gue nunda banyak hal, nyari alasan elegan buat menutupi kenyataan sederhana: gue takut gagal. Takut keliatan kecil. Takut dilihat orang lain dan disimpulkan: “Dia nggak jadi apa-apa.”

Sekarang, di depan layar ini, gue nyadar... mungkin itu bukan ketakutan lagi. Mungkin itu kenyataan.
Gue menatap pantulan wajah gue di layar hitam. Mata cekung, kulit kusam, rambut mulai menipis. Gue nyoba senyum, tapi hasilnya malah nyakitin—kayak ngeliat orang asing yang pura-pura baik ke gue.

Ada suara kecil di kepala gue yang bilang: Mungkin lo cuma sampai sini.
Dan anehnya, gue nggak punya tenaga buat bantah.
Ada rasa kosong yang tenang banget. Nggak nyakitin, tapi juga nggak ngasih harapan apa-apa.

Di luar, ada motor lewat. Cepat, nggak peduli.
Lampunya sempat mantul di dinding kamar gue, lalu hilang.
Dan entah kenapa, gue ngerasa itu perumpamaan yang terlalu pas buat hidup gue: terang sebentar, terus hilang, tanpa jejak.

Gue nyalain rokok baru, tarik napas dalam-dalam, biar dada terasa penuh—walau cuma asap.
Gue nggak punya doa malam ini.
Nggak ada rencana.
Cuma satu kalimat yang muter di kepala, pelan, tapi jelas:

"Gue masih di sini ... tapi gue nggak tahu buat apa."

Share:

0 comments:

Posting Komentar