DARI SEMUA USAHAKU, KENAPA YANG DILIHAT HANYA SALAHKU?
Kadang capek banget, sumpah.
Gue udah usaha habis-habisan—belajar, kerja lembur, nahan sakit hati, nyoba ngertiin orang—tapi ujung-ujungnya yang dibahas cuma: “Salah lo di sini.”
Kayak semua keringat dan niat baik gue nggak pernah ada.
Yang kelihatan cuma momen waktu gue jatuh.
Anehnya, manusia emang gitu. Kita lebih gampang nginget yang buruk daripada yang baik. Di psikologi, itu namanya negativity bias. Otak kita udah dilatih dari zaman purba buat lebih peka sama bahaya. Dulu biar bisa selamat dari harimau. Sekarang? Harimaunya ganti jadi omongan orang, penilaian, komentar tajam di media sosial. Otak masih mikir itu ancaman, padahal cuma kata-kata. Tapi efeknya tetap bikin kita ngerasa gagal total.
Yang nyakitin tuh bukan cuma orang lain yang liat salah kita, tapi diri sendiri juga.
Gue bisa ngulang satu kesalahan kecil di kepala kayak kaset rusak, padahal udah ada ratusan hal baik yang gue lakuin. Tapi otak tetep milih fokus ke satu titik hitam itu, sampai semua usaha gue kelihatan nggak berarti.
Dan disitu gue mulai mikir: buat siapa sih semua ini?
Kalau gue berjuang cuma buat diakui, ya wajar sakitnya begini. Karena pengakuan orang tuh kayak bayangan—lo kejar, dia menjauh. Tapi kalau gue mulai berjuang buat sesuatu yang lebih dalem, kayak rasa puas pas gue tahu gue udah ngasih yang terbaik, atau cuma buat buktiin ke diri sendiri kalau gue bisa… mungkin rasa capek ini jadi lebih ringan.
Gue tahu, dunia jarang adil.
Orang gampang ngelihat hasil, tapi buta sama proses. Lo bisa kerja keras setahun, terus satu kesalahan kecil langsung ngancurin reputasi. Tapi kalau lo berhenti di situ, berarti mereka menang—bukan karena lo salah, tapi karena lo percaya cuma itu nilai lo.
Jadi sekarang, gue nggak mau lagi buang energi buat nyalahin siapa pun.
Biar aja orang mau ngomong apa.
Gue tetap jalan, tetap usaha, tetap gagal, tetap belajar. Karena selama gue nggak berhenti, yang mereka sebut “salah” cuma potongan kecil dari cerita yang masih terus gue tulis.
Dan kalau nanti mereka baru sadar seberapa besar gue berjuang?
Ya bagus. Kalau nggak? Nggak apa-apa.
Yang penting, gue tahu sendiri—gue nggak pernah berhenti mencoba.
Pertanyaannya sekarang: apakah lo masih mau mereka melihat, atau lo mau belajar tidak peduli pada siapa yang melihat?

0 comments:
Posting Komentar