Rabu, 26 November 2025

AFEKTUM: Saat Beban Terakhir Diletakkan

 

Kematian, dalam imajinasi yang paling jernih, bukan lagi bayangan bergigi yang menunggu di tikungan gelap. Ia berubah menjadi sesuatu yang lebih akrab, lebih tua, lebih sabar—seperti kawan lama yang pernah duduk bersamamu di malam-malam beku, menjaga diammu tanpa memaksamu bicara. Ketika ia akhirnya menemukanku, aku ingin ia membungkuk sedikit, seperti seseorang yang paham betul bahwa langkahku sudah lama goyah. Aku ingin ia berbisik pelan, dengan nada yang tidak menghakimi dan tidak mendesak―“kemarilah, sudah cukup. pertarunganmu selesai.”

Share:

Selasa, 25 November 2025

AFEKTUM: ANGKAT DAGUMU, BAJINGAN!

 



Jadilah pria yang tenang. Bukan tenang yang palsu, bukan senyum setengah mati yang dibuat buat biar dunia percaya kau baik-baik saja. Tenang yang lahir dari luka yang sudah terlalu sering disayat sampai sarafnya mati rasa. Tenang yang tidak berisik, tidak perlu validasi, tidak memohon-mohon untuk dipahami. Tenang yang tumbuh dari kesadaran bahwa hidup tidak pernah peduli, jadi kau harus berhenti berharap dunia akan menyiapkan karpet merah hanya karena kau sudah bersikap manis.

Share:

Minggu, 23 November 2025

Interlude: Rokok-dan-Takdir-Sialan


Interlude: Rokok-dan-Takdir-Sialan

Gue ulang di kepala kayak mantra banci stamina: It's OKAY, gue cuma butuh rokok dan— ya, apalah itu yang biasanya gue jadikan alasan buat bertahan. Rokok dan jeda. Rokok dan pintu keluar darurat yang sebenernya cuma mural di tembok. Rokok dan ilusi bahwa asap bisa ngangkut pergi semua beban. Padahal ya enggak. Asap cuma naik, muter sebentar, terus hilang kayak komitmen manusia modern.

Share:

RENJANA: DI TEPI PESAN YANG TAK TERKIRIM

 DI TEPI PESAN YANG TAK TERKIRIM


Ia berdiri di bawah lampu koridor apartemen yang redup, menatap layar ponselnya seolah benda itu menyimpan petunjuk yang ia lewatkan. Hanya ada satu kotak percakapan yang terus ia buka—ruang kosong yang dulu pernah hidup oleh percakapan singkat, emoji seadanya, dan jeda-jeda yang sama canggung dengan dirinya.


Sudah lama mereka tidak berbicara. Tidak ada pertengkaran, tidak ada perpisahan, tidak ada sesuatu yang bisa diberi label. Waktu hanya berjalan dan menjauhkan, seperti dua kereta yang sama-sama bergerak pelan tapi menuju arah yang berbeda.


Di tangannya, pesan itu berulang kali ditulis lalu dihapus. “Hei,” tulisnya. Hapus. “Apa kabar?” Hapus. Layar kembali bersih, seperti tidak ada satu pun ketakutan yang pernah dirangkai di sana.


Di dalam kepala, ia membayangkan suara dering singkat di ponsel orang itu. Membayangkan kepala yang terangkat, alis sedikit mengernyit. Lalu muncul kemungkinan-kemungkinan yang tak mau berhenti berdesakan. Mungkin ia akan dianggap mengganggu. Mungkin ia akan dibalas dengan sopan tapi dingin. Mungkin ia tidak akan dibalas sama sekali, dan diam seperti itu lebih menyakitkan daripada kata-kata paling buruk.


Ia menyandarkan tubuh ke dinding koridor, merasakan dingin merembes lewat jaket tipisnya. Suara AC gedung berbunyi lirih, seperti napas panjang bangunan tua yang terlalu sering dipaksa bekerja. Sementara ia sendiri merasa seperti seseorang yang terperangkap dalam jeda, di antara tombol “kirim” dan ketakutan yang menahan.


Dalam ruang pikirannya, wajah orang itu muncul samar. Bukan potret yang jelas—lebih seperti sketsa yang tersusun dari fragmen: cara tersenyum setengah hati, kebiasaan meletakkan rambut di balik telinga, tawa kecil yang muncul tiba-tiba. Detail-detail yang tak lagi ia temui di dunia nyata, tetapi masih menyelinap tanpa izin.


Ia kembali menatap layar. Jempolnya bergerak pelan, mengetik satu kalimat: Aku ingin menyapamu, tapi aku takut mengganggumu.


Kalimat itu berdiri di sana, tipis dan ringkih. Tidak puitis, tidak dramatis, hanya sesuatu yang ingin keluar. Ia menatapnya lama, seperti seseorang yang menimbang apakah harus melompati celah kecil yang sebenarnya bisa dilewati dengan mudah, namun terasa seperti jurang.


Kemudian ia menutup kembali ponsel itu tanpa mengirim apa-apa. Bukan karena ia sudah yakin, melainkan karena keraguannya menang sekali lagi. Keraguan yang tumbuh dari bayangan-bayangan yang ia ciptakan sendiri—bukan dari kenyataan.


Ia berjalan menuju lift, langkahnya pelan, bergema di sepanjang koridor. Di lantai bawah, suara kota menyambutnya: kendaraan lewat, lampu toko yang hampir padam, dan angin tipis malam. Semua itu terasa biasa saja, tapi justru keberbiasaannya membuat ia merasa lebih kecil.


Di halte terdekat, ia duduk menunggu bus yang nyaris kosong. Ia membuka ponsel lagi, menatap percakapan itu untuk kesekian kalinya. Tidak ada pesan baru. Ruang itu tetap hening, tidak menuntut apa pun darinya.


Sebelum bus datang, ia mengetik sesuatu sekali lagi. Tidak rumit. Tidak panjang. Sebuah salam sederhana, tanpa beban apa pun. Lalu ia diam. Pesan itu tidak terkirim. Ia hanya membiarkan kalimat itu berada di sana—sekadar bukti bahwa perasaannya tidak padam.


Ketika bus akhirnya berhenti di depannya, ia memasukkan ponsel ke saku. Malam terasa lebih ringan. Mungkin besok ia akan berani. Mungkin tidak. Tapi ia memilih naik bus itu dan duduk di kursi belakang, menatap jendela yang bergetar pelan.


Kota lewat dalam pantulan. Dan di balik kaca, ia melihat sosoknya sendiri: seseorang yang masih berada di tepi suatu kalimat yang belum berani melompat.


Cerita itu belum selesai, pikirnya. Hanya berhenti sementara, persis seperti pesan yang belum ia kirimkan.

Share:

Minggu, 16 November 2025

RENJANA: Jeda yang Tidak Pernah Selesai

Aku tiba lebih awal di kafe itu. Ruangannya sempit, lampu kuning redup, dan hujan mengetuk kaca seperti seseorang yang ingin masuk tapi tak punya alasan kuat. Sudah bertahun-tahun aku tidak melihatnya, tapi ketika ia muncul di ambang pintu, tubuhku menegang. Wajahnya bukan tua, bukan letih—lebih seperti seseorang yang sudah terlalu lama kehilangan arah hingga tak peduli lagi bentuk tujuannya.

Ia duduk tanpa senyum. Hanya sebuah anggukan kecil, seolah pertemuan ini bukan reuni, melainkan pemeriksaan rutin terhadap luka lama.

“Aku dengar hidupmu berubah,” katanya ketika pelayan pergi.

Aku menatap asap kopi yang naik seperti ruh yang ragu-ragu. “Bukan berubah. Lebih ke … berhenti memaksa.”

Ia tertawa pendek, tapi suaranya hambar. “Sama. Dulu aku pikir hidup itu tinggal menambah pencapaian. Sekarang rasanya semakin aku mengejar, semakin jauh semuanya pergi.”

Keheningan merapat di antara kami. Hening yang tidak canggung—lebih seperti dua reruntuhan yang akhirnya mengakui bentuk keretakan masing-masing.

“Aku sudah tidak punya rencana besar,” kataku. “Bahkan untuk hal-hal yang dulu kuanggap sakral. Rumah, keluarga, masa depan yang rapi. Semua itu terasa seperti brosur hidup yang didorong ke tangan kita tanpa pernah kita minta.”

Ia menatap permukaan sendok, melihat pantulan wajahnya sendiri yang terdistorsi. “Aku berhenti percaya pada konsep ‘nanti’. Terlalu sering jatuh di titik yang sama. Terlalu banyak janji yang kubuat pada diri sendiri, terlalu sedikit yang bisa kutepati. Pada akhirnya, aku lelah menagih takdir.”

“Jadi sekarang hanya mengikuti arus?”

“Bukan hanya,” katanya pelan. “Mengalir adalah bentuk bertahan. Dan bertahan … kadang itu yang paling masuk akal.”

Aku mengangguk. “Dulu aku pikir aku ditakdirkan untuk jadi hebat. Sekarang aku lebih percaya bahwa ambisi bisa jadi racun kalau dicampur harapan yang terlalu manis.”

Kali ini ia tersenyum tipis. Ada retakan di senyum itu, tapi justru di situlah kejujurannya. “Kau terdengar lebih gelap.”

“Gelap itu jujur,” jawabku. “Terang sering dipakai orang untuk memoles bangkai.”

Ia meletakkan sendok, napasnya berat namun stabil. “Jadi kita hidup begini saja? Tanpa kilau, tanpa rencana, hanya berusaha tidak tumbang?”

“Tidak tumbang itu pencapaian,” kataku. “Bukan piala, tapi cukup.”

Hujan di luar semakin riuh. Kafe makin kosong. Kami masih berbicara sedikit, tapi tidak ada lagi pretensi, tidak ada usaha mengesankan satu sama lain. Hanya dua orang yang pernah berlari terlalu keras, kini duduk menilai reruntuhan dengan tenang.

Ketika kami berpisah, tak ada pelukan atau janji temu. Hanya dua langkah mundur, dua anggukan, seperti dua bayangan yang saling mengakui tanpa menuntut apa pun.

Dalam perjalanan pulang, aku merasakan sesuatu yang aneh: semacam kelegaan yang tidak manis, tapi jujur. Mungkin hidup memang tidak pernah berniat membuat kami besar. Mungkin yang ia minta hanya satu hal: tetap ada … meski dengan kecewa yang belum selesai, meski dengan langkah yang semakin pelan.

Dan di kesunyian itu, untuk pertama kalinya, aku merasa tidak perlu lagi pura-pura.

 

Share:

Sabtu, 15 November 2025

MONOLOG: Psikologi Kedap Suara

MONOLOG

    Kadang hidup ngasih plot twist yang bikin lo ngerasa kayak karakter NPC yang lupa dikasih script. Lo jalan, lo jatuh, lo berdarah sedikit—dan dunia cuma ngelirik sambil nanya: “bro, masih fungsi gak?” Bukan “sakit gak?” Bukan “perlu dipeluk?” Lebih kayak quality control, bukan empati.

Share:

Selasa, 11 November 2025

Rabu, 05 November 2025

MONOLOG: LELAKI YANG TAK JADI APA-APA


 Jam tiga pagi.

Gue masih duduk di depan laptop yang layarnya kosong. Nggak ada satu kata pun keluar. Cursor-nya cuma nyala-mati-nyala-mati, kayak jantung yang nggak yakin mau terus berdetak atau berhenti aja.

Di asbak, rokok terakhir udah mati separuh. Abunya nempel di ujung filter, bentuknya kayak niat yang gagal gue selesaikan.

Kota di luar sunyi, tapi kepala gue ribut.
Detik jam di dinding terdengar jelas—teratur, kejam, dan jujur: terlambat, terlambat, terlambat.

Umur gue tiga puluh lima.
Dan kalau hari ini gue harus jujur, gue nggak tahu apa yang bisa gue banggakan dari semua tahun yang lewat.
Gue nggak miskin, tapi juga nggak sukses.
Nggak gagal total, tapi nggak berarti juga.
Hidup gue kayak versi beta dari sesuatu yang nggak pernah sempat disempurnakan.

Dulu gue percaya waktu akan ngasih gue kesempatan. Gue cuma perlu sabar, katanya. Tapi ternyata sabar juga bisa jadi bentuk lain dari takut. Gue nunda banyak hal, nyari alasan elegan buat menutupi kenyataan sederhana: gue takut gagal. Takut keliatan kecil. Takut dilihat orang lain dan disimpulkan: “Dia nggak jadi apa-apa.”

Sekarang, di depan layar ini, gue nyadar... mungkin itu bukan ketakutan lagi. Mungkin itu kenyataan.
Gue menatap pantulan wajah gue di layar hitam. Mata cekung, kulit kusam, rambut mulai menipis. Gue nyoba senyum, tapi hasilnya malah nyakitin—kayak ngeliat orang asing yang pura-pura baik ke gue.

Ada suara kecil di kepala gue yang bilang: Mungkin lo cuma sampai sini.
Dan anehnya, gue nggak punya tenaga buat bantah.
Ada rasa kosong yang tenang banget. Nggak nyakitin, tapi juga nggak ngasih harapan apa-apa.

Di luar, ada motor lewat. Cepat, nggak peduli.
Lampunya sempat mantul di dinding kamar gue, lalu hilang.
Dan entah kenapa, gue ngerasa itu perumpamaan yang terlalu pas buat hidup gue: terang sebentar, terus hilang, tanpa jejak.

Gue nyalain rokok baru, tarik napas dalam-dalam, biar dada terasa penuh—walau cuma asap.
Gue nggak punya doa malam ini.
Nggak ada rencana.
Cuma satu kalimat yang muter di kepala, pelan, tapi jelas:

"Gue masih di sini ... tapi gue nggak tahu buat apa."

Share: