Fase di mana satu-satunya hal yang bisa gue lakuin cuma ngelus dada, tarik napas panjang, dan bilang pelan, “Gapapaaa… ini bukan yang pertama. Nanti tinggal sembuhin lagi aja.”
Lucu ya, betapa kalimat itu udah kayak mantra.
Dulu gue ngucapinnya buat nenangin diri. Sekarang, rasanya lebih kayak kebiasaan—otomatis, hambar, tanpa keyakinan. Gue tahu luka ini bakal sembuh, tapi gue juga tahu, nanti bakal kebuka lagi. Siklusnya udah terlalu familiar buat dibilang “proses.”
Kadang gue mikir, mungkin ini emang pola hidup gue—bangun, berusaha, jatuh, pura-pura tegar, sembuh, lalu jatuh lagi.
Dan setiap kali, rasa sakitnya tetap sama, cuma ekspresinya aja yang makin sunyi. Gue udah nggak nangis, nggak marah, nggak nyalahin siapa-siapa. Gue cuma diem, kayak orang yang udah hafal prosedur patah hati.
Ada titik di mana lo berhenti ngerasa “terluka” dan mulai ngerasa “rusak permanen.”
Bukan karena udah terlalu banyak disakiti, tapi karena lo udah nggak tahu cara sepenuhnya pulih. Lo belajar hidup dengan bolong-bolong di dalam diri, dan lo mulai nyebut itu “biasa aja.”
Tapi di balik kata “gapapa” itu, ada kelelahan yang nggak bisa lo jelaskan ke siapa pun.
Kelelahan yang datang bukan dari satu kejadian besar, tapi dari ratusan hal kecil yang terus ngikis harapan lo sedikit demi sedikit—sampai lo nggak yakin masih punya sisa untuk berharap.
Gue tahu, nanti gue bakal sembuh lagi.
Seperti biasa.
Gue bakal kerja, ngobrol, ketawa, seolah semuanya balik normal.
Tapi ada bagian kecil dalam diri gue yang nggak ikut pulih—yang diam-diam makin dingin setiap kali siklus ini berulang.
Dan mungkin... itu yang paling menakutkan dari semua ini:
bukan karena gue hancur,
tapi karena gue mulai terbiasa hancur—
dan nggak lagi berusaha penuh untuk utuh.

0 comments:
Posting Komentar