Rabu, 03 Desember 2025

AFEKTUM: Pathological Liar


 Pathological liar itu makhluk unik. Bukan jenis penipu karismatik yang sering nongol di film—lebih seperti kebiasaan refleks yang menempel di saraf orang-orang tertentu. Lo bisa nemuin spesies ini di kantor, di tongkrongan, bahkan di antrean warteg kalau sial. Polanya selalu sama: distorsi kecil, tapi konsisten.

Share:

Rabu, 26 November 2025

AFEKTUM: Saat Beban Terakhir Diletakkan

 

Kematian, dalam imajinasi yang paling jernih, bukan lagi bayangan bergigi yang menunggu di tikungan gelap. Ia berubah menjadi sesuatu yang lebih akrab, lebih tua, lebih sabar—seperti kawan lama yang pernah duduk bersamamu di malam-malam beku, menjaga diammu tanpa memaksamu bicara. Ketika ia akhirnya menemukanku, aku ingin ia membungkuk sedikit, seperti seseorang yang paham betul bahwa langkahku sudah lama goyah. Aku ingin ia berbisik pelan, dengan nada yang tidak menghakimi dan tidak mendesak―“kemarilah, sudah cukup. pertarunganmu selesai.”

Share:

Selasa, 25 November 2025

AFEKTUM: ANGKAT DAGUMU, BAJINGAN!

 



Jadilah pria yang tenang. Bukan tenang yang palsu, bukan senyum setengah mati yang dibuat buat biar dunia percaya kau baik-baik saja. Tenang yang lahir dari luka yang sudah terlalu sering disayat sampai sarafnya mati rasa. Tenang yang tidak berisik, tidak perlu validasi, tidak memohon-mohon untuk dipahami. Tenang yang tumbuh dari kesadaran bahwa hidup tidak pernah peduli, jadi kau harus berhenti berharap dunia akan menyiapkan karpet merah hanya karena kau sudah bersikap manis.

Share:

Minggu, 23 November 2025

Interlude: Rokok-dan-Takdir-Sialan


Interlude: Rokok-dan-Takdir-Sialan

Gue ulang di kepala kayak mantra banci stamina: It's OKAY, gue cuma butuh rokok dan— ya, apalah itu yang biasanya gue jadikan alasan buat bertahan. Rokok dan jeda. Rokok dan pintu keluar darurat yang sebenernya cuma mural di tembok. Rokok dan ilusi bahwa asap bisa ngangkut pergi semua beban. Padahal ya enggak. Asap cuma naik, muter sebentar, terus hilang kayak komitmen manusia modern.

Share:

RENJANA: DI TEPI PESAN YANG TAK TERKIRIM

 DI TEPI PESAN YANG TAK TERKIRIM


Ia berdiri di bawah lampu koridor apartemen yang redup, menatap layar ponselnya seolah benda itu menyimpan petunjuk yang ia lewatkan. Hanya ada satu kotak percakapan yang terus ia buka—ruang kosong yang dulu pernah hidup oleh percakapan singkat, emoji seadanya, dan jeda-jeda yang sama canggung dengan dirinya.


Sudah lama mereka tidak berbicara. Tidak ada pertengkaran, tidak ada perpisahan, tidak ada sesuatu yang bisa diberi label. Waktu hanya berjalan dan menjauhkan, seperti dua kereta yang sama-sama bergerak pelan tapi menuju arah yang berbeda.


Di tangannya, pesan itu berulang kali ditulis lalu dihapus. “Hei,” tulisnya. Hapus. “Apa kabar?” Hapus. Layar kembali bersih, seperti tidak ada satu pun ketakutan yang pernah dirangkai di sana.


Di dalam kepala, ia membayangkan suara dering singkat di ponsel orang itu. Membayangkan kepala yang terangkat, alis sedikit mengernyit. Lalu muncul kemungkinan-kemungkinan yang tak mau berhenti berdesakan. Mungkin ia akan dianggap mengganggu. Mungkin ia akan dibalas dengan sopan tapi dingin. Mungkin ia tidak akan dibalas sama sekali, dan diam seperti itu lebih menyakitkan daripada kata-kata paling buruk.


Ia menyandarkan tubuh ke dinding koridor, merasakan dingin merembes lewat jaket tipisnya. Suara AC gedung berbunyi lirih, seperti napas panjang bangunan tua yang terlalu sering dipaksa bekerja. Sementara ia sendiri merasa seperti seseorang yang terperangkap dalam jeda, di antara tombol “kirim” dan ketakutan yang menahan.


Dalam ruang pikirannya, wajah orang itu muncul samar. Bukan potret yang jelas—lebih seperti sketsa yang tersusun dari fragmen: cara tersenyum setengah hati, kebiasaan meletakkan rambut di balik telinga, tawa kecil yang muncul tiba-tiba. Detail-detail yang tak lagi ia temui di dunia nyata, tetapi masih menyelinap tanpa izin.


Ia kembali menatap layar. Jempolnya bergerak pelan, mengetik satu kalimat: Aku ingin menyapamu, tapi aku takut mengganggumu.


Kalimat itu berdiri di sana, tipis dan ringkih. Tidak puitis, tidak dramatis, hanya sesuatu yang ingin keluar. Ia menatapnya lama, seperti seseorang yang menimbang apakah harus melompati celah kecil yang sebenarnya bisa dilewati dengan mudah, namun terasa seperti jurang.


Kemudian ia menutup kembali ponsel itu tanpa mengirim apa-apa. Bukan karena ia sudah yakin, melainkan karena keraguannya menang sekali lagi. Keraguan yang tumbuh dari bayangan-bayangan yang ia ciptakan sendiri—bukan dari kenyataan.


Ia berjalan menuju lift, langkahnya pelan, bergema di sepanjang koridor. Di lantai bawah, suara kota menyambutnya: kendaraan lewat, lampu toko yang hampir padam, dan angin tipis malam. Semua itu terasa biasa saja, tapi justru keberbiasaannya membuat ia merasa lebih kecil.


Di halte terdekat, ia duduk menunggu bus yang nyaris kosong. Ia membuka ponsel lagi, menatap percakapan itu untuk kesekian kalinya. Tidak ada pesan baru. Ruang itu tetap hening, tidak menuntut apa pun darinya.


Sebelum bus datang, ia mengetik sesuatu sekali lagi. Tidak rumit. Tidak panjang. Sebuah salam sederhana, tanpa beban apa pun. Lalu ia diam. Pesan itu tidak terkirim. Ia hanya membiarkan kalimat itu berada di sana—sekadar bukti bahwa perasaannya tidak padam.


Ketika bus akhirnya berhenti di depannya, ia memasukkan ponsel ke saku. Malam terasa lebih ringan. Mungkin besok ia akan berani. Mungkin tidak. Tapi ia memilih naik bus itu dan duduk di kursi belakang, menatap jendela yang bergetar pelan.


Kota lewat dalam pantulan. Dan di balik kaca, ia melihat sosoknya sendiri: seseorang yang masih berada di tepi suatu kalimat yang belum berani melompat.


Cerita itu belum selesai, pikirnya. Hanya berhenti sementara, persis seperti pesan yang belum ia kirimkan.

Share: