Pathological liar itu makhluk unik. Bukan jenis penipu karismatik yang sering nongol di film—lebih seperti kebiasaan refleks yang menempel di saraf orang-orang tertentu. Lo bisa nemuin spesies ini di kantor, di tongkrongan, bahkan di antrean warteg kalau sial. Polanya selalu sama: distorsi kecil, tapi konsisten.
Contoh receh tapi memuakkan: “Bang, disuruh Pak A beresin ini.”
Kalimatnya halus, nada sopannya pas, seolah cuma menyampaikan pesan. Realitasnya? Pak A nggak pernah ngomong apa-apa. Nggak ada instruksi, nggak ada bisik-bisik, nggak ada koordinasi. Semua itu cuma stempel palsu yang ditempel ke tugas yang nggak mau dia akui sebagai kepentingannya sendiri.
Di titik ini gue sadar, pathological liar bukan musuh. Dia cuma orang yang takut namanya muncul di garis depan. Takut disalahin. Takut terlihat punya kehendak. Jadi dia ngungsi ke otoritas fiktif. Mengambil nama orang yang dihormati, lalu menempelkannya ke permintaan pribadi. Kayak anak kecil yang bilang, “Mama yang nyuruh,” padahal jelas-jelas itu murni kemauannya.
Efeknya? Ekosistem kerja jadi kabur. Batas tanggung jawab hilang. Realitas jadi pasir halus yang nggak pernah bisa digenggam utuh. Semua orang ngomong A seolah A benar, padahal lapisan di dalamnya cuma ketakutan yang disamarkan.
Gue sering lihat kebohongan begini keluar tanpa jeda. Bukan rencana besar. Bukan manipulasi tingkat tinggi. Postur tubuhnya santai, ekspresi wajahnya netral. Kalimatnya mengalir seperti prosedur biasa. Ini yang bikin menjengkelkan: mereka bahkan nggak menyadari itu kebohongan. Ini refleks, bukan strategi.
Dan di tengah dunia penuh “disuruh Pak A”, gue ngerti kenapa gue makin pelit cerita. Kejujuran di ruang kayak gini kayak meletakkan gelas kaca di tengah meja goyah—cepat atau lambat pasti jatuh.
Kebohongan kecil itu selalu menggerogoti stabilitas. Mereka merusak nada percakapan, struktur kerja, bahkan cara orang saling membaca. Lo bisa lihat atmosfernya: semua orang hati-hati, semua orang menebak-nebak, semua orang siap membantah tanpa frontal. Kepercayaan jadi barang koleksi, bukan standar operasional.
Kadang gue pengen bilang, “Kalau butuh bantuan, ngomong aja. Nggak perlu narik nama Pak A sebagai tameng.” Tapi gue tahu, itu cuma menyentuh permukaan. Pola ini lahir dari budaya takut salah, takut lemah, takut terlihat punya keinginan. Lingkungan yang memaksa topeng jadi pakaian dinas.
Afektum gue hari ini sederhana: ini bukan tentang satu kebohongan kecil. Ini tentang atmosfer sosial yang memaksa orang memilih fiksi demi aman.
Dan di tengah itu semua, gue memilih diam bukan karena gue tertutup, tapi karena gue nggak mau jadi bagian dari museum dusta mereka. Atmosfer kayak begini bikin kejujuran terasa seperti barang antik—rapuh, mahal, dan tidak untuk dipamerkan sembarangan.

0 comments:
Posting Komentar