Minggu, 23 November 2025

Interlude: Rokok-dan-Takdir-Sialan


Interlude: Rokok-dan-Takdir-Sialan

Gue ulang di kepala kayak mantra banci stamina: It's OKAY, gue cuma butuh rokok dan— ya, apalah itu yang biasanya gue jadikan alasan buat bertahan. Rokok dan jeda. Rokok dan pintu keluar darurat yang sebenernya cuma mural di tembok. Rokok dan ilusi bahwa asap bisa ngangkut pergi semua beban. Padahal ya enggak. Asap cuma naik, muter sebentar, terus hilang kayak komitmen manusia modern.

Gue berdamai dengan fakta itu. Hidup kadang enggak ngasih plot twist elegan; kadang cuma ngelemparin lo batu sambil bilang “deal with it”. Jadi gue deal dengan rokok satu batang. Lalu satu lagi. Gue tahu nikotin bukan solusi; dia cuma negosiasi kecil dengan absurditas. Semacam kontrak singkat antara gue dan semesta: tolong jangan jatuhin meteor pas gue lagi ngerokok. Minimal kasih gue lima menit hening.

Lucunya, lima menit itu lebih jujur daripada sebagian besar hubungan sosial. Asap enggak bohong. Dia selalu nunjukkin arah angin. Angin enggak pura-pura. Dan gue bisa berdiri di situ, merokok, nonton takdir bergerak kayak kereta yang nggak pernah nanya apakah gue naik atau enggak.

Jadi ya, it's OKAY. Gue cuma butuh rokok dan sedikit kesempatan buat ngelihat hidup dari jarak setengah helaan napas. Takdir sialan ini mungkin enggak bakal berubah, tapi setidaknya gue bisa ngasih jeda sebelum nerusin bab berikutnya. Kadang jeda itu satu-satunya pilihan yang waras.

Share:

0 comments:

Posting Komentar