Gue gak pernah acuh sama orang—kecuali orang itu emang layak diacuhkan. Sejenis seleksi alam mental. Kalau lo gak mau lihat beban gue, gue juga gak wajib ngasih ruang di kepala gue buat lo.
Bayangin aja: gue ngerjain tiga hal serentak. Bukan metafora, bukan dramatisasi, tapi tumpukan kerja yang numpuk kayak puzzle jelek. Beresin gudang atas—yang otaknya udah bikin overload sensorik. Terima barang—yang butuh fokus biar gak ada salah input. Closingan—yang kalau salah, bisa bikin sistem kejang. Tiga domain eksekusi, tiga beban kognitif, satu tubuh gue.
Lalu ada orang dateng, nunjuk tangan, nyuruh ini-itu tanpa lihat gue lagi posisi gimana. Dia gak peduli struktur prioritas, gak peduli kapasitas, gak peduli realitas. Ini pola klasik egocentric bias: orang menganggap dunia lagi berhenti demi kebutuhan mereka. Seakan-akan gue ini NPC yang selalu idle sampai mereka pencet tombol interaksi.
Gue cuma ngeliatin dia sambil mikir: lo sebenarnya hidup di dunia nyata atau di delusi personal lo sendiri? Karena ada satu fenomena psikologi yang cocok buat orang kayak gini: illusion of centrality—perasaan bahwa dirinya adalah pusat sistem, sementara orang lain cuma orbit.
Padahal kenyataannya? Enggak. Sama sekali enggak.
Gue udah main juggling kerjaan sambil meredam cognitive dissonance—tubuh gue bilang capek, tapi kewajiban bilang lanjut. Gue coba tetap waras, tetap fungsional, tetap profesional. Dan ketika lo bisa bantu, lo malah milih jadi penonton yang cerewet. Tipikal bystander with authority: punya kuasa, tapi lebih milih ngasih perintah daripada turun tangan.
Lalu ketika gue mulai mengabaikan, orang kayak gitu sering mikir gue berubah. Padahal enggak, gue cuma berhenti mengalokasikan energi buat hal-hal yang gak layak. Emotional regulation bukan berarti harus terus mengerti semua orang. Kadang artinya menarik boundary, menutup pintu, dan bilang ke diri sendiri: “cukup.”
Aneh bukan gue. Yang aneh itu orang yang nuntut hal-hal yang bahkan gak mau dia pahami.
Di titik ini, sikap acuh gue bukan pemberontakan, tapi hasil kalkulasi. Ketika orang lain menolak melihat realitas, gue gak punya kewajiban untuk tetap hadir di dunia mereka yang nyaris seperti fanfic tentang diri sendiri.
Dan lucunya, mereka bakal terus heran. Karena orang yang hidup di gelembung sering bingung kenapa dunia di luar gelembung gak nurut.
Gue cuma kerja. Mereka cuma berisik. Dunia tetap absurd. Dan gue memilih kewarasan.

0 comments:
Posting Komentar