Kadang aku membayangkan kita bertemu tanpa rencana, tanpa sapaan, tanpa nama yang dulu membuat jarak terasa masuk akal. Dua siluet yang saling melintas, seolah dunia sengaja meredam dirinya agar pertemuan itu terjadi dalam diam yang terlalu telanjang untuk ditafsirkan.
Di kepalaku, detik itu selalu lebih gelap daripada yang seharusnya. Bukan romantis—lebih seperti kenangan yang menolak mati. Kau lewat, aku lewat, dan ada jeda yang terasa seperti lubang kecil di dada; jeda yang mengingatkanku bahwa keberadaanmu masih menodai orbit hidupku, meski aku berusaha menghapus semua garis yang pernah kita tarik bersama.
Yang aneh, aku tidak berharap kau berhenti. Aku tidak ingin kau menyapa. Aku hanya ingin memastikan bahwa tubuhmu masih dilemparkan oleh gravitasi yang sama dengan tubuhku, di bawah langit yang memusuhi kita dengan cara yang konsisten. Cukup begitu. Cukup untuk membuktikan bahwa aku belum sepenuhnya berhalusinasi tentang masa lalu yang tak lagi ingin kau akui.
Tidak perlu kembali, tidak perlu menjelaskan apa pun—asal sekejap itu ada, asal wajahmu muncul sebentar di batas pandanganku. Itu sudah menjadi bentuk kepulangan yang paling kelam: pulang yang tak pernah berani kusebut, yang kubiarkan membusuk dalam diri tanpa upaya penyelamatan.
Kadang aku bertanya pada diriku sendiri, entah sejak kapan melihatmu berubah menjadi ritual muram yang menggantikan doa. Mungkin sejak aku berhenti percaya bahwa sesuatu bisa diperbaiki. Mungkin sejak aku menyadari bahwa beberapa manusia hanya diciptakan untuk lewat—bukan untuk tinggal—tetapi tetap meninggalkan jejak sekeras bekas luka.
Jika hidup ini memang panggung yang mempermainkan kita, maka pertemuan seperti itu adalah adegan yang ditulis untuk menghukum. Adegan yang menguji apakah aku masih cukup waras untuk melanjutkan langkah setelah melihat wujudmu yang tak lagi menjadi milikku.
Dan seperti biasa, aku melanjutkan. Tubuh berjalan, hati diam, dan kepalaku sibuk menampung malam.
Kau lewat, aku lewat. Sisanya adalah kegelapan yang tahu caranya bertahan.

0 comments:
Posting Komentar